Home
ITS
Alumni ITS
FAQ
Members
Blogs
Photos
Videos
Music
Groups
Events
Polls
Forums
Articles
chat
Top Posts
31 December, 196931 December, 1969 2 comments Uncategorized Uncategorized

Asus Eee PC Pernahkah Anda menderita sesak nafas? Salah satu penyebabnya karena ruang penampungan udara di paru-paru kita menyempit. Ternyata, derita yang sama juga dapat dialami Asus EEE PC, laptop mungil besutan Asus. Namun, penyebabnya tentu saja bukan karena kekurangan udara, melainkan kekurangan ruang penyimpanan data! Seperti apa derita sesak nafas yang mungkin terjadi, lalu bagaimana cara menanggulanginya? Memiliki sebuah laptop yang mungil dan ringkas adalah kebanggaan tersendiri bagi pemilik Asus EEE PC. Sayangnya, ruang penyimpan data yang diberikan juga ikut-ikutan mungil. Hal ini tentu menjadi masalah bagi Anda yang ingin menyimpan data dalam jumlah besar, mengingat media penyimpan yang tersedia tidak sebesar yang ditawarkan laptop-laptop konvensional yang beredar di pasaran. Seperti kita ketahui bahwa tipe Asus EEE PC yang saat ini beredar di Indonesia -- tipe 701 -- hanya memiliki ruang penyimpan data berukuran kecil, kira-kira 4000 MB alias 4 GB. Ruang penyimpanan itu akan bertambah kecil manakala kita memasang sistem operasi, misalnya Windows XP. Bayangkan! Dengan instalasi Windows XP ditambah Microsoft Office, ruang penyimpanan yang tersisa hanya sekitar 1500 MB alias 1,5 GB. Belum lagi jika kita hendak memasukkan file lain, seperti audio dan video. Wah, terbayang betapa minimnya ruang penyimpanan yang tersisa. Untuk mengatasi "sesak nafas" itu, kita bisa saja membeli hard drive external, atau memasang memory card tambahan. Namun, hal tersebut akan membutuhkan biaya tambahan. Nah, bagaimana kalau kita coba mengoptimalkan ruang penyimpanan yang ada dengan sedikit mengutak-atik sistem operasi yang terpasang di EEE PC? Tips kali ini ditujukan bagi pengguna Asus EEE PC yang telah atau hendak memasang Windows XP, mengingat pengguna sistem operasi ini paling banyak jumlahnya. Selain itu, penulis juga memberikan beberapa informasi tambahan mengenai cara mengoptimalkan subnotebook ini, yang penjelasannya dapat disimak di akhir artikel. Membersihkan file-file Windows XP Yang Tidak Perlu Teknik ini tak hanya dapat digunakan pada Asus EEE PC, tapi juga untuk semua komputer yang berbasis Windows XP. Anda tidak perlu mengeluarkan biaya atau memiliki keterampilan apapun, cukup ikuti langkah demi langkah yang penulis berikan! CATATAN: Jika Anda -- khususnya pengguna berpengalaman -- ingin mengetahui detail demi detail mengenai file-file yang hendak Anda "gauli," silahkan buka http://www.bold-fortune.com. Link tersebut berisi informasi yang menjadi referensi penulis, sehingga Anda mengetahui dengan pasti file apa yang dapat Anda hapus dan yang harus Anda pertahankan. 1. Pembersihan Standar Setelah Anda selesai memasang Windows XP dan aplikasi-aplikasi yang Anda butuhkan, saatnya Anda melakukan pembersihan standar terhadap file-file sampah pada sistem operasi Windows XP Anda. Caranya? a. Klik kiri icon MY COMPUTER di desktop Anda, atau pilih menu MY COMPUTER yang ada di Start Menu. b. Selanjutnya akan muncul jendela MY COMPUTER berisi daftar drive yang terpasang di komputer Anda. Klik kanan pada drive "C". c. Klik kiri tombol Disk Cleanup yang terletak di kanan bawah lingkaran diagram kapasitas ruang hard drive Anda. d. Selanjutnya akan muncul daftar jenis file sampah yang ingin Anda hapus. Beri tanda centang untuk semua entri (atau yang Anda inginkan), lalu klik OK. Sistem akan mengkonfirmasi proses pembersihan, jawab "Yes" untuk setuju. e. Jika proses pembersihan selesai, Anda akan kembali ke jendela Properties hard drive. Beri tanda centang pada entri "Compress drive to save disk space" (untuk mengkompresi file-file di hard drive sehingga memberi ruang penyimpanan lebih besar), lalu klik OK. Saat muncul konfirmasi untuk mengkompresi hard drive, klik OK untuk setuju. 2. Singkirkan File Uninstall Windows Update Jika Anda melakukan update terhadap sistem operasi Windows, baik itu berupa patch, hotfix, atau komponen lain yang dibutuhkan Windows, maka komputer akan melakukan backup terhadap file sistem Anda. Jadi, Anda dapat meng-uninstall update tersebut jika diperlukan. Namun, penulis berasumsi bahwa Anda membutuhkan update terbaru dan tidak akan mengembalikan file sistem yang tidak "up-to-date." Jadi, alangkah baiknya jika Anda menghapus backup file sistem Anda, sehingga dapat menghemat sedikitnya 100 MB ruang kosong pada hard drive Anda. Untuk itu, lakukan langkah berikut... a. Pada jendela Windows Explorer, klik menu TOOLS, lalu pilih FOLDER OPTIONS. Selanjutnya, klik tab VIEW, dan aktifkan opsi berikut sesuai instruksi penulis, lalu klik OK. - Show hidden files and folders (On) - Hide protected operating system files (Off) b. Masuk ke folder Windows (umumnya C:\WINDOWS), dan hapus folder dengan awalan nama $, misalnya $NtUninstallKB______$. Tapi jangan hapus folder $hf_mig$, mengingat folder tersebut berisi informasi yang berhubungan dengan proses update sistem Anda. c. Jalankan lagi proses pada poin a., dan kembalikan opsi yang telah Anda rubah ke posisi seperti semula. 3. Hapus Precompiled Setup Files Precompiled Setup Files adalah kumpulan file cache dari aplikasi-aplikasi yang terpasang di sistem operasi Windows XP. File-file ini akan membuat aplikasi yang pernah Anda buka dapat berjalan lebih cepat. Biarpun demikian, beda kecepatannya tidak signifikan, dan akan menghemat sekitar 30 MB jika dihapus. Nah, jika Anda ingin menghapusnya, silahkan ikuti langkah berikut. a. Klik START, lalu pilih RUN. b. Pada kotak dialog RUN, ketik CMD lalu klik OK atau tekan ENTER. c. Anda akan masuk ke modus Command Prompt. Ketik del c:\windows\inf\*.pnf, lalu tekan ENTER. Jika ada konfirmasi, tekan Y untuk setuju. d. Jika sudah selesai, ketik EXIT dan tekan ENTER untuk keluar dari modus Command Prompt. 4. Ganyang file-file Software Distribution! Software Distribution adalah kumpulan file-file sampah hasil instalasi Windows Update, besarnya dapat mencapai 300 MB! Tak ada ruginya jika Anda menghapusnya, karena file-file ini bahkan tidak disentuh Windows jika Anda ingin meng-uninstall update yang pernah Anda lakukan. a. Klik START, lalu pilih RUN. b. Pada kotak dialog RUN, ketik C:\WINDOWS\SOFTWARE DISTRIBUTION\DOWNLOAD, lalu klik OK atau tekan ENTER. c. Saatnya mengganyang habis seluruh file di jendela folder yang Anda lihat! Info Lengkap kunjungi http://extramadura.blogspot.com

TagsTags: tip trik 
31 December, 196931 December, 1969 1 comments Uncategorized Uncategorized

Dunia memang tak selebar daun kelor, tapi selebar daun pisang. Begitulah ungkapan yang umum di dunia telco ini. Kalau kita berpindah2 kerja, selama masih di bidang telco .. ketemunya orang yang itu2 juga. Makanya penting untuk menjaga image, sekaligus membina relasi, memperbaiki hubungan dan silaturahmi dengan rekan kerja, bahkan yg terhitung di bawah kita secara hubungan kerja atau organisasi.


Karena, selain itu .. roda dunia juga berputar. Nah, siapa tahu perusahaan tempat kita bekerja, yang kita bangga2kan .. tahu2 mengalami bangkrut dan harus mengurangi pegawai. Mau tidak mau, pilihan yang tersedia adalah mencari pekerjaan lain untuk menjaga dapur agar tetep "ngebul".


Berikut saya bagikan kasus yang dialami oleh salah seorang rekan kerja dalam hal membina relasi.


Sudah jamak, bahwa beberapa pekerjaan mulai dikerjaan oleh sub-kontraktor. Secara organisasi, perusahaan subkon ini mendapat pekerjaan dari perusahaan utama dan karenanya otomatis berada di bawahnya. Teman saya ini, yang saya rasa lebih secara karakter personal-nya yang cenderung agak berangasan -- rupanya meninggalkan kesan yang "tidak enak" bagi rekan2 kerja di subkon.


Yang terjadi kemudian, dunia berbalik. Rekan subkon ini diterima di perusahaan lain, yang ternyata menjadi kustomer dari perusahaan saya dan teman. Hasilnya bisa ditebak: begitu mereka berdua berinteraksi, yang terjadi -- pada kasus ekstrim -- teman saya merasa dipermainkan oleh si rekan subkon tadi.


Yah, kita memang harus menuai apa yang kita tanam. Dari cerita tadi saya jadi belajar, untuk bisa lebih bersabar dan menghormati orang2 yang berada di lingkungan kerja kita tanpa memandang perbedaan level, title, jabatan, perusahaan, dll.


Karena dunia kerja ternyata, hanyalah selebar daun pisang..

TagsTags:  
31 December, 196931 December, 1969 1 comments Daily Life Daily Life

Tanggal 5 Januari 2009 lalu aku menulis di Blog tentang rizki pertamaku di tahun 2009. Karena server kurang bagus upload yang aku lakukan gagal. Beberapa hari kemudian aku online lagi, eh ternyata tulisan itu nongol dengan format yang rusak. Konyolnya lagi sudah sempat dikunjungi pembaca dan menerima kritik. Sambil membalas dengan ucapan terimakasih atas kritik tersebut aku langsung edit tulisan itu. Kurang lebih setelah seminggu dari peristiwa itu aku online lagi, ternyata tulisan itu tak ada lagi. Dalam benakku mungkin its-one lagi error jadi aku masih tetap berharap agar tulisan itu nongol lagi.

Beberapa hari kemudian aku check lagi tulisan itu, tetapi tetap tidak ada, sampai hari ini aku juga tidak mendapati tulisan itu. Ada apa gerangan dengan tulisan itu? Kemanakah perginya tulisan itu? Sampai hari ini aku masih penasaran, kenapa tulisan di edit malah hilang sama sekali ya? Sebab dari sepotong tulisan yang hilang inilah aku sedikit malas menulis lagi. Entah mengapa, semoga aku tak akan kehilangan tulisan lagi. 

TagsTags: hilang 
31 December, 196931 December, 1969 1 comments Uncategorized Uncategorized

''Hampir bisa dipastikan, di Indonesia, Rhoma Irama penghibur paling jempol. Sejak rapat-rapat raksasa di masa Demokrasi Terpimpin, acara panggung yang paling banyak dibanjiri massa adalah panggung Rhoma,'' kata William H. Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio, AS, yang pernah mengadakan penelitian tentang Rhoma Irama. Frederick, agaknya, tidak berlebihan. Beberapa media massa Indonesia sudah melaporkan, penonton pertunjukan Rhoma di berbagai daerah ada yang jatuh pingsan atau celaka, lantaran terlalu berdesakan -- hal yang sebenarnya sangat disesali Rhoma sendiri. ''Untuk mendapatkan hiburan, kenapa mesti sampai jatuh korban begitu?'' katanya. Berdasarkan data penjualan kaset, dan jumlah penonton film- film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tidak kurang dari 15 juta -- 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan 1984. ''Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas,'' . Sementara itu, Rhoma sendiri bilang, ''Saya takut publikasi. Ternyata, saya sudah terseret jauh.'' Orang menyebut musik Rhoma ''dangdut'', suatu sebutan yang tidak disukai Rhoma. ''Istilah itu diberikan oleh mereka yang tak suka,'' katanya. Ia berkeras menyebut musiknya sebagai irama Melayu. Dalam kenyataannya, musiknya tidak Melayu benar: sudah ada ''revolusi'' di dalamnya, yaitu masuknya unsur rock. Dan menurut Achmad Albar, penyanyi rock tersohor, ''Rhoma pionir. Pintar mengawinkan orkes Melayu dengan rock.'' Rhoma juga sukses di dunia film, setidaknya secara komersial. Data PT Perfin menyebutkan, hampir semua film Rhoma selalu laku. Bahkan sebelum sebuah film selesai diproses, orang sudah membelinya. Satria Bergitar, misalnya. Film yang dibuat dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp 400 juta.Tetapi, ''Rhoma tidak pernah makan dari uang film. Ia hidup dari uang kaset,'' kata Benny Muharam, kakak Rhoma, yang jadi produser PT Rhoma Film. Hasil film disumbangkan untuk, antara lain, masjid, yatim piatu, kegiatan remaja, dan perbaikan kampung. Pada 1983, Rhoma membayar zakat Rp 6 juta. Untuk meraih prestasi dan kekayaan seperti itu, Rhoma sempat melewati masa-masa sangat pahit. Antara lain menjadi gelandangan dan pengamen jalanan di Solo -- berlangsung sejak ia lepas SMA (1964) sampai menjelang peristiwa G-30-S PKI. Di kota itu ia ditemani Benny, kakaknya, dan Haris, kawannya. Mereka bertiga pada mulanya hendak ke Jombang, Jawa Timur, dalam rangka menuruti Rhoma yang hendak memperdalam pelajaran agama Islam di Pesantren Tebuireng. Tetapi, lantaran kehabisan biaya, mereka lantas terdampar di Solo. Dan mengamen. ''Ketika menerima uang hasil ngamen, kami terharu setelah Oma berkata, ini profesi kita sekarang,'' tutur Haris di kemudian hari, di saat sudah menjadi staf Rhoma Film. Oma adalah panggilan akrab Rhoma sejak kecil sampai sebelum jadi haji, 1975. Selama di Solo itu, mereka bertiga menumpang pada gubuk di pinggir Bengawan Solo milik seorang lelaki bertato bernama Gito. Ayah Rhoma adalah Raden Burda Anggawirya, seorang bekas perwira ABRI. Rhoma lahir ketika sang ayah baru pulang nonton sandiwara Sunda yang dimainkan grup kecintaannya, Irama Baru. Maka, bayi itu diberinya nama Irama -- belakangan menjadi Oma Irama dan Rhoma Irama. Bakat Rhoma sendiri sudah kelihatan sejak masih di SD di Tasikmalaya. Pernah satu kelas tiba-tiba kosong, karena muridnya pergi ke kelas lain. Menonton Oma Irama mendendangkan lagu dengan gaya memikat, kepalanya bergoyang- goyang dan matanya terpejam-pejam. Rhoma dua kali menikah. Pertama dengan Veronica, melahirkan tiga anak -- lantas bercerai, ketika kemudian Rhoma menikahi Ricca Rachim.

 

TagsTags: fenomena 
31 December, 196931 December, 1969 1 comments Uncategorized Uncategorized

Kutukan Lampu Merah ! Begitu kata seorang teman beberapa tahun lalu, entah di Surabaya atau Jakarta. Saya lupa persisnya, karena memang gak pernah perhatian. Tapi tadi pagi tiba-tiba saya teringat istilah itu karena sejak berangkat dari rumah mengantar anak sekolah diteruskan ke kantor, di semua trafic light saya mesti berhenti karena lampu merah. Dan hampir semuanya berhenti paling depan.

 

Ada 10 (sepuluh) trafic light (lampu bang-jo, kata orang Jogya) dalam jarak hanya 38-an km dari rumah ke sekolah anak terus ke kantor. Bahkan satu diantaranya yang mestinya saya belok kiri langsung tetap haris berhenti, karena pak Polisi mengatur antrian masuk Jembatan Mahakam. Dan kembali lagi saya berhenti paling depan. Ya, Jembatan Mahakam, Samarinda memang semakin overload, terutama jika lampu lalu lintas mati seperti tadi pagi.

 

Sekitar sepuluh tahun lalu pindah ke Samarinda, lampu lalu-lintas sering jadi ejekan karena pada titik-titik tertentu terasa mubazir. Malah sering dianggap mengganggu kelancaran lalu-lintas. Mungkin karena itu masih banyak yang nerobos lampu merah. "Mungkin mereka buta warna", begitu selalu omongan isteri saya. "Atau sudah sangat amat kebelet sekali mau ke toilet".

 

Tapi sekarang dengan rasio kendaraan yang naik berlipat-lipat, bisa jadi lebih tinggi rasionya dibanding Jakarta. Tapi jalan raya tidak banyak bertambah. Samarinda memang cocok dibilang sebagai "desa beraspal". Itu julukan Profesor Johan Silas, Guru Besar Arsitektur ITS, untuk kota kelahirannya ini.  

 

Kutukan Lampu Merah membuat perjalanan 38 km saya tempuh dari 6:45 sampai 8:30. Mungkin itu biasa bagi orang Jakarta, tapi untuk Samarinda menjadi sangat luar biasa. Apalagi dibanding 10 tahun lalu. Yang membedakan dengan Jakarta, waktu tempuh akan sangat berbeda significant antara siang dan malam. Antara jam sibuk dan hari libur. Tapi di Samarinda tidak begitu berbeda saat ini, karena hampir 50% jalan yang saya tempuh sudah rusak parah dilindas truck2 batu bara dan diterjang air keruh longsoran bukit gundul yang memaksa jalan raya menjadi kanal baru.

 

Untuk menghindari kutukan lampu merah, teman saya dulu bilang kita harus speed up agar tidak kena di trafic light berikutnya. Entahlah, soalnya tanpa kutukan lampu merah (mungkin hanya berhenti di beberapa trafic light saja), saya bisa sampai di kantor jam 8:00, tapi berangkat jam 6:30. Jadi sebenarnya kutukan itu hanya memperlambat saya 15 menit saja. Lima belas menit untuk 10 trafic light cuma satu setengah menit each. Itupun mungkin juga lebih disebabkan saya berangkat agak lambat, jadi mulai kena "macet".  

 

Speed up di jalan yang penuh kendaraan dan juga jalan rusak bukanlah pilihan yang enak. Apalagi ada anak di kursi penumpang. Apalagi usia semakin tua refleks udah gak seperti Schummy. Bahkan sewaktu muda pun, keahlian ngebut saya gak ada apa-apanya dibanding sama Alonso dibius lokal di ketiaknya. 

 

Lagi pula perancangan lampu merah sudah diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan trafic di titik tersebut dan segala macam, anak Sipil tahu kali ya. Bisa jadi memang tidak ada itu yang namanya Kutukan Lampu Merah. Bisa jadi semua tadi hanya kebetulan yang aneh. Jadi kesimpulannya: Sebagai kuli pabrik yang baik, besok saya mesti berangkat jam 6:30.

 

TagsTags:  
31 December, 196931 December, 1969 1 comments Pendidikan Pendidikan

Mungkin ini kaya semacam Frequently Asked Questions buat lulusan baru. Bagaimana caranya melanjutkan kuliah di luar negeri. Saya akan mencoba membagi pengalaman saya dikuliah di Jerman dan beberapa teman yang kuliah disini. Untuk ke Jerman ada beberapa kemungkinan untuk gratis, antara lain:

  1. Kerja praktek/praktikum
  2. Mengerjakan thesis
  3. Mendapatkan beasiswa dari DAAD

Kerja praktek/praktikum
Kadang-kadang perusahaan, institut dan pusat penelitian membutuhkan mahasiswa untuk membantu dalam bekerja. Supaya mereka lebih fokus kepada penelitiannya. Jadi pekerjaan kebanyakan hanya membantu instalasi dan melakukan pengetesan. Hal ini menghemat uang karena untuk membayar mahasiswa cukup 400-1000€/bulan saja daripada profesional yang lebih dari 3000€/bulan. Cara mendaftar bisa lewat website perusahaan, cari di google tergantung bidang studi. Misalnya elektro ke Siemens dsb.

Mengerjakan thesis
Ini sama dengan praktikum prosedur pendaftaran, hanya standar gaji lebih rendah, kadang tidak cukup untuk hidup. Untuk thesis saya sendiri belum pernah lihat orang Indonesia melakukannya, karena kurang berani dan nekad seperti orang India,

Beasiswa dari DAAD (www.daad.de)
Biasanya diprioritaskan untuk dosen walaupun banyak juga yang bukan dosen. Di Indonesia cabangnya ada di Jakarta dan Surabaya, bisa dilihat di websitenya. Beasiswa lainnya biasanya dari universitas yang bersangkutan.

Bagaimana kalau biaya kuliah sendiri, berapa yang dibutuhkan. Saya coba kasih tahu beberapa rincian (data sekitar 3 tahun yang lalu):

  1. Sekitar 75000€ untuk jaminan hidup satu tahun
  2. Tiket pesawat sekitar 500€
  3. Biaya kuliah 500€/semester tergantung negara bagian
  4. Kursus bahasa Jerman (sangat direkomendasikan setinggi-tingginya level)

Untuk biaya hidup rinciannya (relatif terhadap kota)

  1. Asuransi 60€/bulan
  2. Angkutan umum seperti bus dan trem 100€/semester
  3. Biaya kuliah 500€/semester baik S1 dan S2
  4. Makan 120€/bulan
  5. Tempat tinggal 200-350€/bulan

Rekomendasi:

  1. Jangan pernah mencoba memakai jasa untuk membantu pengurusan, sudah banyak yang tertipu.
  2. Bahasa Jerman sangat penting untuk mencari kerja dan hidup disana. 60% mahasiswa Indonesia gagal lulus dan kebanyakan karena masalah bahasa

Ini semua adalah pengalaman pribadi dan hanya bisa dipakai sebagai acuan, jadi harus mencari data yang lebih baru.

TagsTags: kuliah luar negeri europe 
Copyright © 2017 ITS One.